Monday, August 22, 2016

Aku Cinta Indonesia: Pesona Alam Ciwidey Bandung


Aku adalah seorang gadis yang lahir dan besar di sebuah pulau kecil di Kepulauan Riau, yaitu Tanjung Balai Karimun. Sejak kecil, aku sering membaca cerita-cerita legenda yang menyebutkan berbagai tempat penuh kisah di seluruh Indonesia. Hal ini tentu saja membuat aku ingin sekali menjelajahi tempat-tempat tersebut. Pada tahun 2011, aku menjadi salah satu yang beruntung diterima sebagai mahasiswa Fakultas Farmasi sebuah universitas negeri di Bandung. Hal ini tentu mendekatkan langkah-langkah ku untuk menjelajahi tempat-tempat wisata di Pulau Jawa. Bulan Agustus 2016 ini, keluarga ku datang ke Bandung untuk menghadiri acara besarku, yaitu Pengambilan Sumpah/ Janji Apoteker.
Setelah tanggal pelaksanaan acara pengambilan sumpah dan tanggal keberangkatan ke Bandung ditentukan, kami mulai membidik dan akhirnya membeli tiket pesawat dari jauh-jauh hari untuk mendapatkan harga yang tidak terlalu mahal. Untuk datang ke Bandung, keluarga ku perlu menyebrang terlebih dahulu menggunakan kapal ferry ke Batam, kemudian naik pesawat rute Batam-Bandung. Kali ini, keluarga ku memilih untuk terbang bersama Citilink dengan harga terjangkau dan pelayanan bermutu.
Setelah sampai di Bandung sore itu, aku mengajak mereka makan malam dan kemudian beristirahat di tempat penginapan, karena penjelajahan pesona alam Bandung akan dimulai dari pagi keesokan harinya. Kami menyewa mobil dan supir untuk menjelajahi beberapa tempat wisata di Bandung. Tempat tujuan utama kami kali ini adalah Bandung bagian Selatan, yaitu Ciwidey.
Tempat wisata yang pertama kami kunjungi adalah Situ Patenggang. Situ Patenggang adalah sebuah taman wisata alam di Bandung Selatan. Tempat wisata ini dikenal dengan dua nama, yaitu “Situ Patengan” dan “Situ Patenggang”. Situ berarti danau, Patengan merupakan nama desa di mana danau ini berada. Nama “Patengan” berasal dari bahasa Sunda “Pateangan” yang berarti saling mencari. Sedangkan “Patenggang” dalam bahasa Sunda berarti terpisah dari jarak ataupun waktu.
Kemudian, kami juga naik perahu melintasi danau tenang tersebut sambil menikmati udara segar dan pemandangan indah. Perahu mengelilingi Pulau Asmara dan berlabuh dekat Batu Cinta, sebuah batu yang menjadi saksi bisu cinta romantis “Ki Santang dan Dewi Rengganis” yang lama terpisahkan. Batu besar berkisah ini tentu menjadi salah satu objek foto para pengunjung.

Di sepanjang perjalanan, hijaunya perkebunan teh yang tertata rapi di sisi kiri dan kanan jalan sangat memukau, yang tentunya menggoda untuk memarkirkan mobil di pinggir jalan untuk berfoto-foto dengan daun-daun teh yang masih berembun pagi. Memandangi perkebunan teh dengan daun-daun hijau yang membentang luas, dan pucuk runcing yang ada di ujung tanaman, membuat kesegaran sudah terasa tanpa harus minum teh.

Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan ke Kawah Putih. Tempat ini tidak dikunjungi pertama, karena khawatir kalau terlalu pagi dan baru habis hujan, pemandangan di Kawah Putih terganggu oleh kabut. Kawah putih saat ini sebenarnya adalah kawah Gunung Patuha. Namun, nama tersebut ternyata kalah populer bagi wisatawan. Tempat ini lebih terkenal dengan nama Kawah Putih Bandung, karena memang tanah dan airnya berwarna putih. Konon asal nama Gunung Patuha ini bermula dari kata “Sepuh” yang dalam bahasa Indonesia disebut “Pak Tua”, lambat laun, kata “Pak Tua” berubah menjadi Patuha.
Saat kami baru sampai di lokasi ini, ternyata, pemandangan masih tertutupi oleh kabut. Walaupun demikian, keindahan Kawah Putih tetap patut diacungi jempol. Dinginnya cuaca, menyengatnya bau belerang, dan tebalnya kabut yang menyelimuti pemandangan Kawah Putih tentu saja tidak mengganggu antusias berfoto-foto untuk mendokumentasikan momen kesenangan dan kebersamaan dengan keluarga, serta tentunya untuk dipamerkan ke media sosial. Momen yang dinanti-nanti pun tiba sekitar sepuluh menit kemudian. Kabut akhirnya pergi meninggalkan wisatawan yang ingin menikmati keindahan Kawah Putih. Jempol untuk keindahan Kawah Putih kini berlipat ganda. Tanah dan air putih dengan latar belakang pohon-pohon hijau kini menjadi keindahan yang makin menggoda.

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Cai Ranca Upas. Tempat ini lebih dikenal dengan Ranca Upas yang merupakan salah satu bumi perkemahan di Ciwidey. Sambil menikmati udara segar dan sejuk, bisa menikmati keindahan beragam flora dan fauna di sini. Selain dapat berinteraksi dekat dengan rusa di area Penangkalan Rusa, pengunjung juga dapat beraktivitas di berbagai kegiatan outdoor dengan fasilitas-fasilitas yang tersedia. Selain dapat bersantai bersama keluarga, ini juga menjadi tempat rekreasi beredukasi bagi anak-anak.


Ayo, jangan hanya terlarut menjelajahi dunia maya! Mari menjelajahi pesona alam Indonesia! Eksplorasi dan lestarikan keindahan alam Indonesia! Aku Cinta Indonesia!

3 comments:

  1. Tulisan menarik, terimakasih atas partisipasinya dalam lomba blog Airpaz,
    Semoga menang dapat tiket pesawat gratis dari Airpaz yah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah membaca & komentar anda.
      wish u all the best too..

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete