Aku adalah seorang
gadis yang lahir dan besar di sebuah pulau kecil di Kepulauan Riau, yaitu Tanjung
Balai Karimun. Sejak kecil, aku sering membaca cerita-cerita legenda yang menyebutkan berbagai tempat penuh
kisah di seluruh Indonesia. Hal ini tentu saja membuat aku ingin sekali
menjelajahi tempat-tempat tersebut. Pada tahun 2011, aku menjadi salah satu
yang beruntung diterima sebagai mahasiswa Fakultas Farmasi sebuah universitas
negeri di Bandung. Hal ini tentu mendekatkan langkah-langkah ku untuk
menjelajahi tempat-tempat wisata di Pulau Jawa. Bulan Agustus 2016 ini,
keluarga ku datang ke Bandung untuk menghadiri acara besarku, yaitu Pengambilan
Sumpah/ Janji Apoteker.
Setelah tanggal
pelaksanaan acara pengambilan sumpah dan tanggal keberangkatan ke Bandung
ditentukan, kami mulai membidik dan akhirnya membeli tiket pesawat dari jauh-jauh hari untuk
mendapatkan harga yang tidak terlalu mahal. Untuk datang ke Bandung, keluarga
ku perlu menyebrang terlebih dahulu menggunakan kapal ferry ke Batam, kemudian
naik pesawat rute Batam-Bandung. Kali ini, keluarga ku memilih untuk terbang
bersama Citilink dengan harga terjangkau dan
pelayanan bermutu.
Setelah sampai di
Bandung sore itu, aku mengajak mereka makan malam dan kemudian beristirahat di
tempat penginapan, karena penjelajahan pesona alam Bandung akan dimulai dari
pagi keesokan harinya. Kami menyewa mobil dan supir untuk menjelajahi beberapa
tempat wisata di Bandung. Tempat tujuan utama kami kali ini adalah Bandung
bagian Selatan, yaitu Ciwidey.
Tempat wisata yang
pertama kami kunjungi adalah Situ Patenggang. Situ Patenggang adalah sebuah
taman wisata alam di Bandung Selatan. Tempat wisata ini dikenal dengan dua
nama, yaitu “Situ Patengan” dan “Situ Patenggang”. Situ berarti danau, Patengan
merupakan nama desa di mana danau ini berada. Nama “Patengan” berasal dari
bahasa Sunda “Pateangan” yang berarti saling mencari. Sedangkan “Patenggang”
dalam bahasa Sunda berarti terpisah dari jarak ataupun waktu.
Kemudian, kami
juga naik perahu melintasi danau tenang tersebut sambil menikmati udara segar
dan pemandangan indah. Perahu mengelilingi Pulau Asmara dan berlabuh dekat Batu
Cinta, sebuah batu yang menjadi saksi bisu cinta romantis “Ki Santang dan Dewi
Rengganis” yang lama terpisahkan. Batu besar berkisah ini tentu menjadi salah
satu objek foto para pengunjung.
Di sepanjang
perjalanan, hijaunya perkebunan teh yang tertata rapi di sisi kiri dan kanan
jalan sangat memukau, yang tentunya menggoda untuk memarkirkan mobil di pinggir
jalan untuk berfoto-foto dengan daun-daun teh yang masih berembun pagi. Memandangi perkebunan teh dengan daun-daun hijau yang membentang luas, dan pucuk
runcing yang ada di ujung tanaman, membuat kesegaran sudah terasa tanpa
harus minum teh.
Selanjutnya, kami
melanjutkan perjalanan ke Kawah Putih. Tempat ini tidak dikunjungi pertama,
karena khawatir kalau terlalu pagi dan baru habis hujan, pemandangan di Kawah
Putih terganggu oleh kabut. Kawah putih saat ini sebenarnya adalah kawah Gunung
Patuha. Namun, nama tersebut ternyata kalah populer bagi wisatawan. Tempat ini
lebih terkenal dengan nama Kawah Putih Bandung, karena memang tanah dan airnya
berwarna putih. Konon asal nama Gunung Patuha ini bermula dari kata “Sepuh”
yang dalam bahasa Indonesia disebut “Pak Tua”, lambat laun, kata “Pak Tua”
berubah menjadi Patuha.
Saat kami baru sampai di lokasi
ini, ternyata, pemandangan masih tertutupi oleh kabut. Walaupun demikian,
keindahan Kawah Putih tetap patut diacungi jempol. Dinginnya cuaca,
menyengatnya bau belerang, dan tebalnya kabut yang menyelimuti pemandangan
Kawah Putih tentu saja tidak mengganggu antusias berfoto-foto untuk
mendokumentasikan momen kesenangan dan kebersamaan dengan keluarga, serta
tentunya untuk dipamerkan ke media sosial. Momen yang dinanti-nanti pun tiba
sekitar sepuluh menit kemudian. Kabut akhirnya pergi meninggalkan wisatawan
yang ingin menikmati keindahan Kawah Putih. Jempol untuk keindahan Kawah Putih
kini berlipat ganda. Tanah dan air putih dengan latar belakang pohon-pohon
hijau kini menjadi keindahan yang makin menggoda.
Kemudian, kami
melanjutkan perjalanan ke Kampung Cai Ranca Upas. Tempat ini lebih dikenal
dengan Ranca Upas yang merupakan salah satu bumi perkemahan di Ciwidey. Sambil
menikmati udara segar dan sejuk, bisa menikmati keindahan beragam flora dan
fauna di sini. Selain dapat berinteraksi dekat dengan rusa di area Penangkalan
Rusa, pengunjung juga dapat beraktivitas di berbagai kegiatan outdoor dengan fasilitas-fasilitas yang
tersedia. Selain dapat bersantai bersama keluarga, ini juga menjadi tempat
rekreasi beredukasi bagi anak-anak.
Ayo, jangan hanya terlarut menjelajahi
dunia maya! Mari menjelajahi pesona alam Indonesia! Eksplorasi dan lestarikan
keindahan alam Indonesia! Aku Cinta Indonesia!





Tulisan menarik, terimakasih atas partisipasinya dalam lomba blog Airpaz,
ReplyDeleteSemoga menang dapat tiket pesawat gratis dari Airpaz yah :)
Terima kasih sudah membaca & komentar anda.
Deletewish u all the best too..
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete